Halaman

Jumat, 16 Maret 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebuah museum memiliki fungsi yang demikian luas, tidak saja sebagai monumen, melainkan juga sebagai tempat catatan sejarah, dokumentasi dan tempat belajar bagi generasi berikutnya. Namun jumlah pengunjung museum akhir akhir ini menurun. Museum "Haji Widayat" di Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar dua kilometer sebelah timur Candi Borobudur, tutup sejak beberapa waktu lalu diduga karena pengelolaan yang kurang baik oleh manajemen keluarga almarhum pelukis Widayat. Akhir-akhir ini koleksi museum berkurang, sekarang beberapa karya Haji Widayat ada di luar museum. Bahkan Sebagian besar karyawan Museum Haji Widayat yang sebanyak 14 orang telah dirumahkan, mungkin sekarang tinggal dua orang yang masih bekerja. Ditetapkannya tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, seperti tak ada gaungnya. Museum-museum dengan koleksi benda berharga dan bersejarah, sekalipun sudah punya nama besar, tetap saja terlihat sepi contohnya Museum Haji Widayat. Hingga mendekati penghujung Bulan September, jumlah pengunjungnya hanya 6 orang. Sebagaimana tercatat pada buku tamu museum tersebut, dalam sepekan jumlah pengunjung seringkali tidak pernah lebih dari 2 orang. Hal itu tentunya belum sesuai harapan pengelola museum yang baru. Meski begitu, pihak pengelola masih terus melakukan pembenahan agar keberadaan museum menjadi lebih menarik sehingga bisa merasang mesyarakat untuk mengunjungi museum yang terletak di pertigaan Borobudur-Kota Mungkid tersebut. Berangkat dari keprihatinan-keprihatinan itu saya membuat makalah ini agar Museum Haji Widayat lebih dikenal khalayak dan menjadi tujuan wisata. B. Rumusan Masalah 1. Siapa dan bagaimanakah proses pendirian Museum Haji Widayat? 2. Bagaimana deskripsi umum bangunan Museum Haji Widayat? 3. Bagaimana sejarah perkembangan Museum Haji Widayat? 4. Apa saja keistimewaan Museum Haji Widayat? C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui siapa dan bagaimanakah proses pendirian Museum Haji Widayat. 2. Mengetahui deskripsi umum bangunan Museum Haji Widayat. 3. Mengetahui sejarah perkembangan Museum Haji Widayat. 4. Mengetahui keistimewaan-keistimewaan Museum Haji Widayat. D. Manfaat 1. Memenuhi tugas akhir mata kuliah Sejarah Pariwisata. 2. Menambah pengetahuan tentang museum Haji Widayat. BAB II PEMBAHASAN A. Deskripsi Umum tentang Pendiri dan Proses Pendirian Museum Haji Widayat Widayat dilahirkan tanggal 9 Maret 1919 di Kutoarjo, Jawa Tengah. Pengalaman seni lukis Widayat cukup mengesankan, setelah tamat HIS (Sekolah Belanda) di Trenggalek tahun 1937, ia pindah dan belajar di Bandung, Jawa Barat. Di kota inilah ia bertemu dengan “pelukis hari minggu” Mulyono, dan dapat dikatakan bahwa dari situlah karir kesenilukisan Widayat dimulai. Pada tahun 1939, Widayat melamar sebagai pegawai kehutanan sebagai mantri opnamer (juru ukur) dan ditempatkan di Palembang selama lebih kurang tiga tahun. Masa tiga tahun sebagai juru ukur kebun karet sangat membekas dalam hatinya. Ini terlihat dalam sebagian karyanya yang banyak diilhami pengamatannya tentang alam, hewan dan tumbuhan. Widayat melepas pekerjaannya di hutan karet saat Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Ia beralih menjadi juru gambar membuat peta rel kereta api Palembang. Tahun 1945 ia bergabung dengan PMC (Penerangan Militer Chusus), dengan pangkat Letnan Satu dan selanjutnya bergabung dengan divisi Garuda Sumatera Selatan tahun 1945-1947, sebagai Pimpinan Seksi Penerangan. Di tempat inilah Widayat baru bisa meneruskan kembali semangat berkeseniannya lewat publikasi poster perjuangan. Pada tahun 1950 ketika ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dibuka di Yogyakarta, Widayat masuk dan menjadi salah satu dari 45 mahasiswa pertama yang di terima di lembaga baru tersebut. Akhirnya Widayat dipercaya kembali ke almamaternya untuk mengajar di ASRI. Sejak menjadi pendidik di ASRI muncul obsesi untuk mendirikan museum, terlebih setelah pulangnya Widayat dari Jepang (1962). Tahun 1998 Widayat memasuki masa pensiun dan tidak lagi mengajar di ASRI (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI). Dan pada tahun 1989 Widayat bersama Soemini (istrinya kedua) menunaikan ibadah haji ke tanah Suci Mekah. Sejak itu, dalam karyanya tertera tanda tangan h. Widayat (“h” dalam huruf kecil). Museum Haji Widayat adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi dan prestasi dari pelukis H. Widayat. Impian dan obsesinya untuk memelihara dan mengabadikan karya-karya pelukis muda, khususnya mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI (Institut Seni Indonesia/ISI). Selama lebih dari 40 tahun, sebelum akhirnya terealisasi, memiliki museum merupakan cita-cita H. Widayat. Bukan saja sebagai tempat memamerkan karya-karya pribadinya maupun karya-karya pelukis dan perupa lain, tetapi sebagai seniman yang menjadi dosen Akademi Seni Rupa Indonesia, motivasi utamanya adalah menjadikan museum pribadinya sebagai tempat untuk belajar dan mengapresiasi karya seni. Sepulang dari belajar di Jepang pada tahun 1962, usulan untuk membuat museum ini muncul dan disodorkan oleh kawan dekatnya, Fadjar Sidik. Ide mendirikan museum ini sebenarnya bermula dari keprihatinan Widayat, yang pada saat itu sudah Pensiun dari Staf Pengajar di Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, melihat koleksi karya-karya mahasiswa yang hanya bertumpuk di gudang, bahkan banyak yang hilang diambil orang. Peristiwa itulah yang mendorong munculnya usulan Fadjar Sidik yang lantas direalisasikannya setapak demi setapak. Konsep H. Widayat akan museum pribadinya dituangkan dalam disain oleh arsitek Ir. H. Edji Sukedji yang dikenal pada saat sama-sama menunaikan ibadah haji. Bangunan Museum diatas tanah seluas ± 5.000 m2 terdiri atas 2 lantai dengan luas bangunan ± 2.500 m2, yang pencahayaannya memanfaatkan sinar matahari yang menembus dinding-dinding kaca, terdiri atas Ruang Pamer Lantai 1 yang peruntukannya ditujukan untuk memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media, sedangkan Ruang Pamer Lantai 2 digunakan sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat. Pada awal pendiriannya selain bangunan museum, H. Widayat juga mendirikan tempat tinggal merangkap studionya serta guest house sebagai tempat untuk menginap para tamu-tamunya. Museum ini dimaksudkan untuk memamerkan karya seni rupa yang telah dipilih oleh almarhum H. Widayat bersama Dewan Kurator menjadi koleksi tetap agar tetap dapat di nikmati oleh pecinta seni ataupun khalayak. Akhirnya pembangunan museum selesai pada awal tahun 1994 dan diresmikan pada 30 April 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Ing. Wardiman B. Deskripsi Bangunan Museum Haji Widayat Museum Seni Rupa H. Widayat berdiri diatas areal tanah seluas ± 7.000 m2 terletak di jalur wisata diantara candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Logo Museum H. Widayat Pada awal berdirinya logo Museum H. Widayat didisain oleh Aming Prayitno (murid sekaligus rekan kerja H. Widayat di ISI Yogyakarta) yang diminta kesediaannya oleh H. Widayat dan Hj. Soemini. Logo berbentuk segi empat dengan siku melengkung melindungi huruf M, H dan W yang dirangkai secara vertikal dengan porposional memiliki makna keseimbangan, sedangkan apabila diamati rangkaian huruf MHW menyerupai buku dan juga pintu terbuka, yang memberikan makna bahwa Museum H. Widayat merupakan sarana untuk menimba ilmu dan selalu terbuka bagi semua orang/kalangan. Pada tahun 2001 logo Museum H. Widayat mengalami perubahan, dengan masih tetap mempertahankan rangkaian huruf MHW sebagai utamanya, logo dibuat dalam format lingkaran (tanpa merubah makna logo awal) serta mencantumkan tiga rangkaian nama bangunan utama kompleks museum : Museum H. Widayat, Galeri Hj. Soewarni (d/h Galeri Widayat), Artshop Hj. Soemini disekelilingnya. Tiga buah garis siku pada bagian atas dan dua buah garis siku bagian bawah, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soewarni (dua putri dan tiga putra), sedangkan garis vertikal sisi sebelah kiri dan kanan huruf MHW, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soemini (enam putra) yang apabila dijumlahkan keseluruhan garis berjumlah 11 untuk mencerminkan kesebelas putra-putri H. Widayat. Pemilihan warna dominan orange dikarenakan warna orange dianggap warna yang dinamis, dimaksudkan untuk menandakan bahwa Museum H. Widayat adalah museum yang dinamis dan aktif, selalu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang. Penambahan dua nama (Hj. Soewarni dan Hj. Soemini) dilakukan seiiring perkembangan dan berdirinya Galeri Hj. Soewarni serta Artshop Hj. Soemini. Pemberian kedua nama pada bangunan tersebut adalah untuk mengabadikan dua orang yang paling berjasa dalam hidup H. Widayat yang telah menjadikan seorang H. Widayat menjadi seniman besar. Perubahan logo tersebut merupakan konsep dan disain Drs. Fajar Purnomo Sidi M.M. (Putra H. Widayat) dan Oscar Samaratungga (Cucu H. Widayat). Museum ini memiliki 3 bangunan utama ditambah area taman yaitu : 1. Museum Haji Widayat Museum Haji Widayat merupakan bangunan utama yang terdiri dari Ruang Pamer Lantai 1 yang digunakan untuk memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media, sedangkan Ruang Pamer Lantai 2 digunakan sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat. Setelah memasuki pintu masuk bangunan ini di sebelah kiri pintu masuk terdapat ruang informasi dan tempat pembayaran karcis. Setelah itu akan ada guide / pemandu yang akan memandu kita berjalan keliling seluruh ruangan di Museum Haji Widayat termasuk ke area taman. 2. Galeri Hj. Soewarni Galeri Hj. Soewarni diresmikan pada 20 Maret 1999 oleh Rektor Institut Seni Indonesia, Prof. DR. I Made Bandem. Pembangunan galeri seni yang diberi nama Hj. Soewarni adalah sebagai penghormatan atas jasa istri pertamanya, dimulai pembangunanya pada tahun 1997. Bangunan seluas 1.300 m2 ini diarsiteki oleh Ir. H. Edji Sukedji dilengkapi dengan gudang untuk penyimpanan lukisan, ruang untuk sekretariat/kantor, mezzanine serta kolam renang pribadi. Masih menggunakan konsep yang sama dengan bangunan museum, cahaya matahari secara natural dimanfaat untuk menyinari ruangan yang dinding-dinding kacanya dihiasai oleh lukisan / sketsa H. Widayat. Galeri ini selain sebagai tempat untuk berpameran, workshop bagi seniman muda atau senior juga diperuntukkan untuk memenuhi keinginan para pecinta seni / kolektor yang berkeinginan untuk mengkoleksi karya-karya H. Widayat. Galeri ini mampu menampung lebih dari 50 karya lukis dan grafis, serta lebih dari 20 karya patung dan seni instalasi. Galeri Hj. Soewarni juga mempunyai puluhan setrika kuno koleksi pribadi yang juga dapat menjadi daya tarik pendukung bagi pengunjung galeri ini. 3. Art Shop Hj. Soemini Art Shop Hj. Soemini adalah bangunan yang berupa rumah joglo yang didirikan sebagai penghormatan atas jasa istri kedua. Pendirian bangunan art shop Hj. Soemini ini, diarsiteki oleh Ir. Agung Wijanarko yang juga merupakan anak ke 5 dari H. Widayat dan Hj. Soemini. Bangunan seluas 1.300 m2 yang mengambil bentuk joglo ini selesai pendiriannya pada tahun 2001 dan diresmikan penggunaanya untuk pertama kali oleh H. Widayat. Bangunan Art Shop Hj. Soemini terbagi atas 3 bagian, dimana ruang depan adalah tempat untuk penjualan cinderamata khas Museum H. Widayat, penjualan karya-karya seni seniman muda, dan sebagai tempat Workshop. Ruang tengah adalah ruang marmer, yang mana di ruangan ini terdapat lukisan / sketsa karya H. Widayat yang dipahatkan pada marmer dan tertempel pada dinding. Ruang belakang adalah merupakan ruang peristirahatan yang pada konsep pembangunan adalah juga akan diperuntukkan sebagai studio tempat H. Widayat berkarya. 4. Area Taman Museum Haji Widayat dilengkapi dengan area taman yang berupa lanskap tanaman tropis lengkap dengan aneka macam jenis tanaman, burung dan juga unggas menunjang dan memberikan suasana asri yang sekaligus terasa menyatu dengan berbagai koleksi karya patung luar ruang (outdoor). Jadi pendirian Museum Haji Widayat juga memperhatikan keindahan lingkungan dimana bangunan-bangunan tersebut berada dan menyatu. Selain itu area taman ini juga merupakan dukungan nyata terhadap program reboisasi C. Perkembangan Museum Haji Widayat Berikut perkembangan Museum Haji Widayat sejak dibangun sampai sekarang: 1. Pembukaan Museum H. Widayat 30 April 1994 Peresmian : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Ing. Wardiman Djojonegoro 2. Ulang Tahun Museum ke-I 30 April 1995 Pameran Patung Outdoor/Indoor Peresmian : Bupati Kepala Daerah Tingkat II Magelang Kardi 3. Pembukaan Galeri Hj. Soewarni 20 Maret 1999 Peluncuran Buku "WIDAYAT. The Magical Mysticism of a Modern Indonesian Artist" Pameran Tunggal H. Widayat “80 th Anniversary Haji Widayat” Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem 4. Pameran Patung dan Lukisan G. Sidharta 15 Januari – 22 Januari 2000 Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem 5. Pameran “Not Just the Political” 10 Nopember – 17 Nopember 2001 Peresmian : H. Widayat 6. Pameran “Pelukis Tanpa Bakat” Batara Lubis dan Nashar 14 - 27 Januari 2002 Peresmian : Bagong Kussudiardjo 7. Solo Exhibition (The Last Exhibition) “83 th Anniversary Haji Widayat” 16 Maret – 30 Maret 2002 Peresmian : dr. Oei Hong Djien 8. Pameran Bersama “Re-Kreasi” Mengenang 100 hari wafatnya Bapak H. Widayat 28 September – 12 Oktober 2002 Peserta 119 Seniman Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika 9. Pameran Bersama “BOROBUDUR INTERNATIONAL FESTIVAL 2003” 14 Juni – 28 Juni 2003 Peserta pameran 79 Seniman Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika 10. Pameran Tunggal “Block Note” Pupuk Daru Purnomo 22 Pebruari – 05 Maret 2004 Peresmian : G. Sidharta Soegijo 11. Pameran Bersama “Membaca Dunia Widayat” 13 - 26 Maret 2004 Peserta Pameran 59 Seniman Peresmian : Deputi Menteri Bidang Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata DR. Sri Hastanto 13 Maret 2004 Peluncuran Buku “EXPLORING MODERN INDONESIAN ART INDONESIA” The collection of dr. Oei Hong Djien by DR. Helena Spanjaard Peluncuran buku : G. Sidharta Soegijo 14 Maret 2004 Bedah Buku “EXPLORING MODERN INDONESIAN ART INDONESIA” The collection of dr. Oei Hong Djien by DR. Helena Spanjaard. Nara Sumber : Jim Supangkat DR. Agus Burhan DR. Helena Spanjaard dr. Oei Hong Djien 12. Pameran “Dekade” , 10 Tahun Museum Haji Widayat Penghargaan Widayat Award, penerima G. Sidharta Soegijo H. Widayat karya media kertas (Paper) Patung - Asosiasi Pematung Indonesia Yogyakarta 30 Mei – 13 Juni 2004 Peresmian : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika 13. Pameran Bersama “4 Perupa” Syahri Nana Banna Tresna Suryawan Abe A. Kohar Ibrahim 15 Agustus – 29 Agustus 2004 Peresmian : Ajip Rosidi 14. Pameran Bersama Dosen dan Mahasiswa ISI Denpasar “Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern II” 05 September – 12 September 2004 Peserta 42 Seniman Peresmian : Prof. DR. I Made Bandem 15. Pameran Berantai “The Realistage” 10 September – 24 September 2005 Peserta 26 Seniman Peresmian : Ajip Rosidi D. Keistimewaan Museum Haji Widayat 1. Koleksi Museum Haji Widayat Koleksi yang dimiliki Museum H. Widayat terdiri atas bermacam-macam jenis karya dalam berbagai media. Seiring dengan berjalannya waktu maka bertambah pula jumlah dan jenis koleksi museum yang dari awalnya hanya sekitar 140 buah untuk karya H. Widayat bertambah menjadi kurang lebih 347 karya di tahun 2000, dan sekarang telah berkembang menjadi 1.001 karya dalam berbagai ukuran dan media. Demikian pula dengan koleksi museum karya seniman lain dari sekitar 130 pada awal museum berdiri maka untuk saat ini karya-karya tersebut telah bertambah menjadi sekitar 500 buah karya terdiri atas lukisan, sketsa, patung dan benda-benda antik lainnya. 2. Lokasi Museum ini terletak di jalur strategis yaitu jalur wisata diantara candi Mendut dan candi Borobudur, kira-kira 2 kilometer sebelum memasuki area Candi Borobudur, tepatnya di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 3. Jam buka Museum Haji Widayat buka setiap hari dari pukul 08.00-16.00 WIB. 4. Tiket dan Parkir Dewasa : Rp 4.000,00 Anak-anak : Rp 2.000,00 Parkir : Rp 1.000,00 5. Fasilitas dan Akomodasi Fasilitas yang ada antara lain toilet, kedai makan, area taman dan tempat parkir. 6. Sertifikasisi Sertifikasi di Museum H. Widayat dimaksudkan sebagai tindakan preventif untuk pencegahan pembajakan, menghindari pemalsuan karya H. Widayat, maka museum H. Widayat mengeluarkan sertifikat yang menyertai lukisan atau karya yang terjual. Dengan metode pengamanan yang canggih diharapkan para pecinta seni/kolektor tidak terkecoh dengan membeli karya asli tapi palsu yang memang banyak beredar. Pengambilan keputusan tentang keaslian lukisan dirumuskan bersama antara Direktur dengan Dewan Kurator Museum H. Widayat. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Museum Haji Widayat didirikan atas ide Widayat untuk memamerkan karya seni rupa yang telah dipilih oleh H. Widayat bersama Dewan Kurator menjadi koleksi tetap agar dapat di nikmati oleh khalayak. Museum ini diresmikan pada 30 April 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Ing. Wardiman . Museum ini terdiri atas Ruang Pamer Lantai 1 (untuk memamerkan karya-karya H. Widayat dalam berbagai media), sedangkan RuangPamer Lantai 2 digunakan sebagai tempat untuk memamerkan karya-karya seniman lain yang merupakan koleksi Museum H. Widayat. Museum ini memiliki 3 bangunan utama yaitu Museum H. Widayat, Galeri Hj. Soewarni dan Art Shop Hj. Soemini, serta ditambah area taman yang dimanfaatkan untuk meletakkan karya seni outdoor. Museum Haji Widayat terletak di Jl. Letnan Tukiyat 32 Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. B. Saran Saya menyarankan agar pengelolaan museum Haji Widayat lebih baik lagi agar pengunjung bertambah nyaman berada di museum ini. Selain itu bagi para pengunjung hendaknya lebih menghormati tata tertib ketika mengunjungi museum Haji Widayat sesuai tata tertib yang berlaku. DAFTAR PUSTAKA http://hajiwidayat.com/perihal diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.30 WIB. http://hajiwidayat.com/other_artists/daft_1.htm diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.35 WIB. http://harianjoglosemar.com/berita/museum-haji-widayat-dibuka-lagi-23425.html diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.40 WIB. http://www.antaranews.com/news/208951/museum-haji-widayat-tutup diakses pada hari Selasa, 20 Desember 2011 pukul 08.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar